Warga Mataram Rasakan Getaran Lemah Saat Gempa M6,9 Terjadi

Iklan Semua Halaman

 


Dukungan setiap lapisan masyarakat diperlukan untuk melindungi diri dan lingkungan dari Covid-19 dengan cara menyukseskan program vaksinasi pemerintah dan tetap mematuhi protokol kesehatan * Penerapan protokol kesehatan menjadi kunci penting pencegahan penyebaran COVID-19. Cara itu bisa dimulai dari kedisiplinan di dalam rumah, terutama jika salah satu anggota keluarga aktif beraktifitas di luar rumah. Kesadaran dan peran seluruh anggota keluarga untuk saling melindungi satu sama lain dengan menerapkan protokol pencegahan penyebaran COVID-19 sangatlah penting. * Yuk, patuhi protokol kesehatan dengan melakukan 3M!

Warga Mataram Rasakan Getaran Lemah Saat Gempa M6,9 Terjadi

Jumat, 21 Agustus 2020


JAKARTA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, NTB, melaporkan warganya merasakan getaran lemah saat gempa M6,9 terjadi di sekitar Laut Banda pagi tadi, Jumat (21/8), pukul 11.09 WIB. Warga setempat merasakan gempa selama 1 hingga 2 detik. 

BPBD Kota Mataram mencatat sejauh ini tidak ada laporan terkait dampak dari gempa. Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Kota Mataram Andi mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan, perangkat desa dan instansi lainnya. 

Sedangkan BPBD Kabupaten Sumbawa di NTB, warga merasakan getaran lemah dan tidak panik saat gempa terjadi. BPBD Kabupaten juga mencatat tidak ada laporan dampak dari kecamatan dan desa. 

Sementara itu, BPBD Kabupaten Flores Timur Lenny menginformasikan pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak Kecamatan, perangkat desa dan instansi lainnya. Sejauh ini tidak ada laporan dampak dari mereka. Warga Larantuka, Flores Timur, NTT tidak merasakan getaran saat gempa terjadi. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis parameter gempa bumi pada Jumat (21/8), pukul 11.09 WIB di wilayah Laut Banda. Gempa tektonik dengan magnitudo M6,9 berlokasi di laut pada jarak 165 km tenggara Buton, Selatan Sulawesi Tenggara pada kedalaman 586 km. BMKG menginformasikan berdasarkan hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami. 

BMKG menganalisis berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi tersebut disebabkan adanya deformasi atau penyesaran pada lempeng yang tersubduksi di bawah Laut Banda. 

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (Normal Fault)," ujar Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono pada Jumat (21/8) melalui pesan digital. 

Ia menambahkan hingga pukul 11.50 WIB terjadi satu aktivitas gempa susulan. Gempa susulan atau aftershock tersebut berkekuatan M5,0.

BMKG menganalisis bahwa guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Waingapu dan Wakatobi III-IV MMI, Mataram, Sumbawa Besar III MMI, Kota Bima, Ende, Ruteng, Kairatu, Banda II-III MMI, Tambolaka, Kendari, Kupang, Ternate dan Alor II MMI.