SDC UMKM Bangkit Produktif Atau Gulung Tikar Ditengah Pademi COVID 19

SDC UMKM Bangkit Produktif Atau Gulung Tikar Ditengah Pademi COVID 19

Jumat, 25 September 2020


KOTA BEKASI,GLOBAL-SATU.com - Pademi Covid 19 terus meningkat dari waktu ke waktu dan tentunya berdampak besar semua sektor usaha di jagat raya baik koperasi maupun usaha mikro, kecil dan menengah  (UMKM) luluh lantah, namun kondisi ini bukan berarti kehidupan terhenti tetapi harus terus bangkit untuk produktif, Tegas Aji Ali Sabana koordinator SDC UMKM

Komunitas UMKM Kota Bekasi yang tergabung dalam SDC terus bergerak melakukan kegiatan kegiatan pembinaan rutin bulanan dalam bentuk seminar dan pameran produk baik offline maupun online zoom meeting dengan thema Pengembangan Wirausaha baru dalam Meningkatkan Produktivitas dimasa pademi Covid 19. Kegiatan ini bertempat di Room meeting Resto Margajaya Jl.Kemakmuran, pada 24 September 2020. 

Antusias peserta begitu besar namun karena kondisi covid akhirnya dibatasi hannya 48 peserta UMKM sekota Bekasi, sisanya mll zoom. Narasumbernya dari Forderum dan team yang mensuport kegiatan, Pegadaian dan Disnaker Kota Bekasi. Kegiatan ini bertujuan memperkuat jejaring umkm dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak terkait baik swasta maupun pemerintah.

Aji ali sabana koordinator SDC UMKM, yang juga pengurus Kadin Kota Bekasi, menegaskan kembali bahwa dampak pademi covid 19 sektor usaha UMKM kuliner restoran terjun bebas alias anjlok 90 persen dari kondisi normal.

"Secara umum usaha UMKM masih merayap, mengingat dampak nya hampir semua sektor usaha termasuk pemerintah melakukan rasionalisasi, merumahkan pegawai dan memangkas belanja rutin, efeknya roda ekonomi stagnan bisa tergambar pertumbuhan ekonomi kwartal ke 2 secara nasional minus 5.32 persen sumber bps,"ujarnya.

Aji ali sabana koordinator sdc UMKM kota bekasi yang juga ketum Apampi, menegaskan bahwa peran pemerintah masih harus ditingkatkan terkait kebijakan relaksasi kredit umkm yang tajam keatas tumpul kebawah, artinya tidak singkron dilapangan faktanya banyak kendaraan usaha UMKM maupun pelaku usaha ojek mandiri yang ditarik, lembaga keuangan perbankkan terus menagih kewajiban kredit bahkan mungkin melelang aset, ini tdk bisa dibiarkan. Disamping itu juga terkait kebijakan insentif pajak, kelonggaran biaya beban listrik umkm dalam jangka panjang sampai usaha pulih. 

"Usaha secara umum lagi menghadapi sakratul maut antara bertahan atau gulung tikar," Tandas  Aji. ( Heri M )