banner 728x250

PSC Trip Pulau Pasoso : Berenang di Laut Lepas, Terseret Arus, Dihempas Gelombang serta Ancaman Serangan Hiu

  • Bagikan

PALU  – Sekitar 30-an anggota Komunitas Palu Swimming Club (PSC), baru saja usai melakukan trip (perjalanan) ke Pulau Pasoso, tepatnya 12 hingga 14 Maret 2021, beberapa hari yang lalu.

Berangkat dari markas PSC di Kampung Nelayan Palu, antara pukul 10 pagi hingga pukul 11 siang. Sebab beberapa anggota PSC lainnya masih harus menyelesaikan tugas-tugas kantor maupun tugas lainnya.

Saya mendampingi pak Yanto, yang sama-sama baru bergabung di Komunitas PSC berangkat lebih awal. Setelah sebelumnya berjibaku mengatur Tandon Air berkapasitas 550 Liter yang nantinya akan diserahkan kepada penghuni pulau sebagai wujud kepedulian PSC terhadap krisis air bersih di pulau terpencil itu.

Selain saya dan pak Yanto, di jok tengah mobil innova rebound warnah putih itu diisi oleh tim Spearow handal PSC : Ois, Fatur dan Steven.

Tepat pukul 12.00 WITA kami tiba di mesjid Desa Labean Kecamatan Balaesang untuk mampir sebenta melakukan sholat jumat, bertepatan saat itu adalah hari jumat.

Usai melakukan sholat jumat, sebuah mobil innova plat merah warna teh susu parkir tepat disamping pintu masuk pagar mesjid tersebut. “Itu mobil pak Ketua PSC”, kata Ois yang menunggu kami usai sholat jumat.

Didepan mobil pak Ketua juga sedang parkir mobil toyota rush warna silver milik ibu Ani Susanti. Alhamdulillah sedikit agak lega meskipun beberapa teman lainnya belum terlihat. Oleh Pak Ketua PSC, Bapak Muslimin, kami di arahkan ke salah satu rumah familinya untuk jamuan makan siang yang terletak bersebelahan dengan pasar tradisional Desa Labean.

Ditengah jamuan makan bapak ketua PSC, satu persatu rombongan PSC lainnya tiba untuk menikmati jamuan makan siang.

Terima Kasih yang tak terhingga kami haturkan kepada Bapak Muslimin, untuk jamuan makan siang dan menu yang super enak. Usai jamuan makan siang kami menuju dermaga mapaga untuk selanjutnya menuju pulau Pasoso.

Pukul 15.30 kapal kayu dari Desa Awesang merapat di bibir pantai Mapaga. Satu persatu barang bawaan di angkut kedalam kapal berbobot 15 ton ini melalui selembar tangga papan selebar 30 cm. Bererapa kejadian menarik pun sempat terjadi dan luput dari bidikan kamera smartphone. Salah satunya adalah kawan Pian yang sempat tergelincir dan nyebur kelaut dan basah kuyup tentunya.

Sebelum menuju Pulau Pasoso, terlebih dahulu kami mengisi air bersih dari Desa Awesang. Desa Awesang merupakat desa terdekat dari pulau Pasoso dengan jarak tempuh 2 jam perjalanan dengan menggunakan kapal kayu. Tandon Air berukuran 550 liter yang akan kami serahkan kepada warga di pulau pasoso ini, sebelumnya diisi air bersih dengan menggunakan jergen dan ember kecil dari sebuah kran di ujung dermaga desa Awesang.

Pukul 17.00 Wita perjalanan kami lanjutkan. Tujuannya terakhir adalah pulau Pasoso. Ditengah cuaca yang cukup bersahabat, langit yang cerah dan lautan yang teduh, perjalan kami juga disuguhkan oleh panorama laut dan pesisir yang mempesona. Lidah tanjung Manimbaya disebelah kiri dan moncong tanjung Dampelas di sebelah kanan. Ditambah lagi dengan rona mentari berlangit jingga; sungguh suguhan yang sangat mengagumkan. Sekitar pukul 18.45 kami tiba di dermaga pulau Pasoso.

Menantang Maut di Spot Parumbia

Setelah menghabiskan malam dengan agenda istrirahat total, keesokan harinya rombongan kami melanjutkan perjalanan ke spot karang dangkal ditenga laut lepas. Oleh masyarakat setempat menyebutnya Parumbia. “Entah siapa yang pertama kali memberi nema Parumbia”, kata pak Ahmad (59 thn) sang penjaga pulau.

Sekitar 1 jam perjalan dari dermaga pulau pasoso, kami tiba di spot super menantang itu. Ditambah cuaca yang kurang bersahabat; tiupan angin kencang, ayunan gelombang yang memecah, menjadikan kapal yang kami tumpangi oleng.

Jangkar kapal sudah dilepas di spot Parumbia. Spot dengan terumbu karang ditengah laut lepas sedalam antara 3-5 meter dan seluas lapangan sepak bola itu menjadi pilihan satu-satunya. Memilih tidak terjun kelaut berarti siap dengan ayunan ombak.

Saya sendiri memilih terjun kelaut. Setelah sebelumnya beberapan teman PSC lainnya sudah berjibaku dengan gelombang diatas terumbu karang ditengah laut lepas itu. Airnya begitu jernih. Terumbu karangnya terjaga. Spesies ikan jangan ditanya. Semua jenis ikan ada.Karena cuaca yang kurang bersahabat, kami pun memutuskan untuk mengakhiri petualangan yang tergolong ekstrim ini. Hanya sekitar 10 sampai15 menit saja. Akhirnya Kami memilih kembali dan memilih spot-spot karang yang dirasa cukup aman.

Konon dulunya, spot Parumbia ini merupakan rumah bagi hiu-hiu predator.

Pernah beberapa saat yang lalu saya mancing disitu (Parumbia) tarik ikan yang naik tinggal kepala hiu. “Hiu makan hiu,” kata Ahmad sang penjaga pulau pasoso sambil tertawa.

Minggu, 14 April 2021 Tepat pukul 07.00 kapal kayu yang kami tumpangi perlahan-lahan melepas ikatan tali jangkar di dermaga pulau kenangan itu. Pulau dengan segala pesona dan tantangannya. Pulau yang dihuni sepasang suami isteri dengan 15 putra-putri. Pulau tanpa layanan kesehatan; apalgi MCK.

Penulis : Joem Jumain

.

banner 728x250
  • Bagikan
banner 728x250
error: Content is protected !!