banner 728x250. banner 728x250. banner 728x250.

Eksplorasi Akulturasi Budaya Masyarakat Jawa di Kalimantan Timur

banner 728x250. banner 728x250.

Berau, Global-satu.com – Perpindahan masyarakat Jawa ke Kalimantan Timur tidak hanya membawa perubahan geografis, tetapi juga membentuk proses akulturasi budaya yang menarik. Dalam sebuah eksplorasi akulturasi budaya yang dilakukan pada tanggal 10 Desember 2023, ditemukan bahwa masyarakat Jawa di Kalimantan Timur berhasil mempertahankan nilai-nilai budaya warisan mereka.

Dalam keseharian mereka, elemen-elemen budaya Jawa seperti tata krama dan kearifan lokal menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan harmoni antara warisan budaya mereka dan lingkungan baru. Meskipun terjadi penyesuaian, masyarakat Jawa di Kalimantan Timur terus merayakan ritual keagamaan dan upacara tradisional, menciptakan ruang untuk perpaduan harmonis antara kebudayaan mereka dan kekayaan budaya lokal.

Selain itu, pola komunikasi antarindividu mengalami evolusi menarik sejak perpindahan ini. Masyarakat Jawa membawa pola interaksi sosial mereka, berbaur dengan budaya lokal Kalimantan Timur, dan membentuk dialog antarbudaya yang kaya akan nuansa dan pemahaman.

Salah satu aspek menarik dari akulturasi budaya ini terletak pada kuliner. Makanan tradisional Jawa bersatu dengan rempah-rempah khas Kalimantan Timur, menciptakan hidangan yang menggoda lidah dan mewakili perpaduan yang harmonis antara dua dunia kuliner yang kaya.

Masyarakat Jawa di Kalimantan Timur bukan hanya menerima budaya lokal, tetapi juga aktif berkontribusi pada keberagaman budaya di wilayah tersebut. Melalui seni, musik, dan tradisi, mereka memperkaya keragaman budaya Kalimantan Timur.

Dalam eksplorasi akulturasi budaya ini, terlihat bahwa perpindahan masyarakat Jawa ke Kalimantan Timur membawa lebih dari sekadar perubahan fisik. Ini adalah perjalanan yang memunculkan akulturasi budaya yang kaya dan menarik, membentuk masyarakat yang menghargai keanekaragaman dan memelihara warisan budaya dengan penuh kebanggaan.

Penulis Muhammad Hariz Susanto /Rachmawan Akbar Matamari /Artikel